Jumat, 17 Februari 2017
Kamis, 16 Februari 2017
Kuliah kepada Koperasi Wanita & Ibu - ibu PKK
Koperasi wanita didesa Pasongsongan digelar secara rutin setiap satu minggu sekali, acara ini dihadiri oleh seluruh anggota dari para pengurus koperasi, kegiatan ini dilakukan dirumah anggota secara bergilir, namun pada acara tersebut berbeda dari yang sebelumnya, karena pada hari itu selain dihadiri anggota koperasi wanita (Kopwan) juga diihadiri mahasiswa KKN Universitas Wiraraja Sumenep yang mana acara tersebut teman-teman KKN mengisi acara dengan kultum (kuliah tujuh menit.
Sebelum masuk acara kultum, acara koperdasi wanita dilakukan seperti biasa dengan mengaji / tadarusan.Selanjutnya masuk pada acara kuliah tujuh menit yang diisi oleh Syaifullah yang merupakan sala satu anggota KKN Universitas Wiraraja Sumenep.
Perbaikan Administrasi Desa
Pembenahan administrasi desa dilakukan oleh mahasiswa KKN Wiraraja Sumenep pada hari kedua di balai desa, kegiatan pada hari selasa memperbaiki data-data yang belum diperbaharui seperti perbaikan papan monografi desa, papan struktur desa, pembuatan nama-nama ruangan yang ada di balai, serta perbaikan lemari arsip desa untuk mempermudah pencarian data.
Pembenahan administrasi ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas administrasi menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Selain itu tujuan perbaikan administrasi untuk membantu staf administrasi dalam pengorganisasian data-data arsip penting.
Pembenahan administrasi ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas administrasi menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Selain itu tujuan perbaikan administrasi untuk membantu staf administrasi dalam pengorganisasian data-data arsip penting.
Sosialisasi "STOP Pernikahan Usia Dini"
Mahasiswa KKN mengadakan sosialisasi bersam perangkat desa yang bertempat di dusun Morassen. sosilaisasi yang diadakan bersama perangkat desa juga dihadiri oleh DANRAMIL bapak Ahmad Riyanto. Bapak Kepala Desa Pasongsongan menyebutkan dalam sambutannya menegaskan dengan adanya sosialisasi ini dapat mengetuk tularkan melalui perangkatnya kepada masyarakat desa Pasongsongan.
Pernikahan dini adalah sebuah pernikahan yang dilakukan oleh mereka yang berusia dibawah usia yang diperbolehkan untuk menikah yaitu dalam Undang-Undang perkawinan minimal 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk laki-laki. hal ini selasar dengan Undang-Undang NO 1 tahun 1974 tentang perkawinan pasal 7 ayat (1) dan pasal 6 ayat (2).
Pernikahan dini adalah sebuah pernikahan yang dilakukan oleh mereka yang berusia dibawah usia yang diperbolehkan untuk menikah yaitu dalam Undang-Undang perkawinan minimal 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk laki-laki. hal ini selasar dengan Undang-Undang NO 1 tahun 1974 tentang perkawinan pasal 7 ayat (1) dan pasal 6 ayat (2).
Penyuluhan Pemanfaatan & Pengolahan Daun Kelor
desa Tolabeng merupakan salah satu dusun di Desa Pasongsongan yang memiliki potensi alam yang salah satunya daun kelor. pada umumnya masyarakat dusun Tolabang mengenal daun kelor hanya sebagai kuah sayur. dan makan ternak sapi, namun mereka tidak mengetahui bahwa daun kelor bisa dijadikan olahan seperti keripik, kerupuk dan puding. adapun manfaat lainya daun kelor juga dapat bisa dimanfaatkan sebagai obat, seperti penyakit kuning, reumatik, rabun ayam, sakit mata, konstipasi, cacingan, dan luka yang bernanah. Adapun kandungan dari daun kelor setara dengan :
4X vitamin A yang dikandung wortel
7X vitamin C yang terkandung pada jeruk
4X mineral kalsium pada susu
3X mineral potassium pada pisang
3/4X zat besi pada bayam, dan
9X protein dari yogurt
Kegiatan Perilaku Hidup Bersih & Sehat
Kegiatan perilaku hidup bersih & sehat dilakukan oleh mahasiswa kuliah kerja nyata dari univ. Wiraraja Sumenep bersama aparat desa.
Para anggota KKN beserta perangkat desa melaksanakan kerja bakti yang dilaksanakan setiap hari Jum'at sekitar pukul 06.30, hal ini bertujuan menjaga kebersihan dan mempererat persaudaraan sekaligus menyadarkan masyarakat sekitar akan pentingnya kebersihan lingkungan. Kegiatan ini dilakukan di area balai desa dan sekitanya. meski lelah dan berkeringat semangat dan kekompakan teman-teman KKN tak pernah surut.
Para anggota KKN beserta perangkat desa melaksanakan kerja bakti yang dilaksanakan setiap hari Jum'at sekitar pukul 06.30, hal ini bertujuan menjaga kebersihan dan mempererat persaudaraan sekaligus menyadarkan masyarakat sekitar akan pentingnya kebersihan lingkungan. Kegiatan ini dilakukan di area balai desa dan sekitanya. meski lelah dan berkeringat semangat dan kekompakan teman-teman KKN tak pernah surut.
POTENSI DESA
POTENSI DESA PASONGSONGAN
![]() |
Gambar Perahu bersandar di Pelabuhan saat tidak beroperasi
|
![]() |
Gambar Pintu gerbang brouk pasongsongan
|
![]() |
Gambar Mahasiswa KKN Berada di Grujugan Pasongsongan
|
![]() |
| Gambar Grujugan dilihat dari dataran tinggi |
Dalam wisata religi desa pasongsongan mempunyai pasarean
Agung Ali Akbar Pakotan, Pasarean Agung Karim Pakotan, dan Bujuh Pakoh Lebak.
![]() |
Gambar Halaman depan Asta syeikh Ali Akbar
|
![]() |
Gambar Asta Syeikh Ali Akbar
|
Rabu, 15 Februari 2017
Perkembangan Budaya Lokal
Perkembangan Budaya Lokal
di Desa Pasongsongan
Budaya
Sumenep adalah budaya yang tumbuh dan hidup dalam masyarakat Sumenep. Budaya
Sumenep dikenal dengan budaya yang sangat menjunjung tinggi sopan santun.Pada
umumnya karakter masyarakat Sumenep adalah periang, ramah-tamah (andep ashor), murah senyum,
lemah-lembut, dan sangat menghormati orang tua.Itulah cermin budaya masyarakat
Sumenep. Jika diamati melalui tutur bahasanya, di Madura, maka semakin ke Barat
akan semakin kasar. Mulai dari paling timur yaitu Sumenep, Pamekasan, Sampang dan
Bangkalan.Tutur bahasa masyarakat Sumeneplah yang paling halus dan ini juga
berlaku bagi watak masyarakatnya.
Kebudayaan
Sumenep memiliki ciri khas tertentu yang membedakannya dari
kebudayaan–kebudayaan lain. Secara umum masyarakat Madura dikenal sebagai
masyarakat yang Gigih dalam bekerja, watak kasar, religius, dan sangat
spiritual. Selain itu Sumenep juga memiliki sejumlah nilai-nilai lain seperti
kesopanan, rendah hati terhadap sesama, hormat kepada yang lebih tua, dan
menyayangi kepada yang lebih kecil. Pada kebudayaan Sumenep keseimbangan magis
di pertahankan dengan cara melakukan upacara-upacara adat sedangkan
keseimbangan sosial masyarakat Sumenep melakukan gotong-royong untuk
mempertahankannya.
Budaya
Sumenep memiliki banyak kesenian, diantaranya adalah kesenian tradisonal musik tong-tong, musik hadrah,dan mancak yang
biasanya di mainkan pada saat ada pagelaran kesenian dan lomba-lomba di Kota
Sumenep. Desa Pasongsongan juga kaya akan tradisi-tradisi keagamaan yang
menjadi kegiatan rutinan warga, seperti jama’ah hotmil qur’an (hataman
al-qur’an), jama’ah rukun kifayah,
muslimatan ibu fatayat, jama’ah
tarekat naqshabandiyah wa al-qadariyah.
Sedangkan tradisi keagamaan tahunan
adalah tradisi samman, Sageddog dan rokat tase’.Semua kebudayaan ini,
tetap dilestarikan dan sudah melekat
pada masyarakat Pasongsongan.
![]() |
Gambar Group musik tong-tong Angin Ribut
|
Gambar Personel musik
tong-tong Angin Ribut
|
Saat
ini peradaban manusia telah maju. Hal tersebut telah terbukti dari
budaya-budaya modern yang muncul dan mengisi dimensi-dimensi kehidupan manusia
mulai dari kehidupan rumah tangga sampai kemajuan teknologi industri dan
informasi. Hal-hal tersebut menandakan bahwa masyarakat telah menikmati hasil
cipta rasa, dan karsa yang berupa hasil-hasil budaya yang tergolong modern.
Berbagai perubahan yang terjadi tidak hanya menyangkut tatanan di dalam
kehidupan sosial ekonomi, juga politik, kebahasaan dan kebudayaan.
Di tengah kemajuan zaman seperti ini kita
tentunya tidak boleh melupakan akar budaya yang telah ada karena
budaya-budaya itu mengandung nilai-nilai
yang sangat luhur yang perlu tetap dilestarikan. Kebudayaan sapi sonok yang
dimiliki kabupaten sumenep juga terus
dilestarikan didesa pasongsongan. Kebudayaan tersebut dijadikan sebagai Ajang silaturrahmi bagi masyarakat desa
pasongsongan khususnya para pemilik sapi sonok. selain itu kebudayaan sapi
sonok juga menjadi hiburan bagi masyarakat sekitar.
![]() |
Gambar Sapi sonok memasuki pintu gapura
|
![]() |
Gambar Sinden Penghibur pemilik sapi saat meninggalkan pintu
gapura
|
![]() |
Gambar Mahasiswa KKN ikut serta dalam acara paguyuban
|
Dalam hal ini kearifan lokal
perlu terus digali sambil tetap menikmati kebudayaan urban di tengah
modernisasi saat ini. Melupakan kearifan lokal yang ada berarti mengingkari
eksistensi warisan budaya nenek moyang yang sangat bernilai. Selain sapi sonok
juga ada beberapa di antaranya adalah bahasa dan budaya daerah. Upaya yang
dilakukan masyarakat Pasongsongan untuk melestarikan budaya lokal terlihat dari
keantusiasan mereka dalam acara-acara festival kebudayaan dan acara-acara
tradisi keagamaan setiap minggu maupun setiap tahun.
Kondisi Pendidikan Desa
Kondisi Pendidikan merupakan salah satu hal yang sangat
penting dalam kehidupan. Pendidikan juga menjadi penopang dalam meningkatkan
sumber daya manusia untuk pembangunan bangsa dan menumbuhkan kesadaran akan
bahaya keterbelakangan pendidikan. Karena tujuan dalam menempuh pendidikan
adalah untuk memberikan suatu pengetahuan agar dapat mencerdaskan bangsa,
sehingga anak-anak bangsa mempunyai keahlian dan keterampilan untuk memenuhi
pembangunan bangsa di berbagai bidang di masa depan. Hal demikian juga sangat
di sadari oleh seluruh elemen masyarakat Pasongongan. Mayoritas warga menyadari
pentingnya pendidikan sehingga para orang tua banting tulang mencari uang
diantaranya untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-ananknya mulai dari
menyekolahkan di SD sampai ke jenjang perguruan tinggi.
Pendidikan
Desa Pasongsongan bisa dikatakan sangat maju, salah satunya bisa dilihat
melalui sarana pendidikan formal maupun non formal. Di Desa Pasongsongan
terdapat sarana pendidikan formal yang tidak kalah seperti halnya di perkotaan.
Hal ini bisa dilihat dari gambar dibawah ini.
![]() |
| Gambar SDN Pasongsongan IV |
Kondisi Fisik & Data Kependudukan
Kondisi
Fisik Desa
Kondisi
wilayah desa Pasongsongan terdiri dari tanah bengkok seluas 17.868 Ha. Tanah
Panaongan seluas 143.525, pekarangan seluas 145.5 Ha, perladangan seluas 22.41
Ha, tegalan seluas 345.6 Ha, dan tanah pekuburan seluas 5.7 Ha.
•
Tabel
Penggunaan Tanah (Ha)
|
No
|
Pemukiman
|
Sawah
Irigasi Teknis
|
Sawah
Non Teknis
|
pekuburan
|
Lain-lain
|
|
|
145.5
Ha
|
345.6
Ha
|
22.41
Ha
|
5.7
Ha
|
•
|
•
Tabel
Infrastruktur Perhubungan (m)
|
No
|
Dusun
|
Jenis
Jalan
|
||
|
Jalan
tanah
|
Jalan
aspal
|
Jalan
makadam
|
||
|
1
2
3
4
5
6
|
Lebak
Morasen
Pakotan
Tolabang
Sempong
Barat
Sempong
Timur
|
3000 m
5500 m
1500 m
2000 m
3000 m
2500 m
|
1000 m
1888 m
1000 m
2000 m
2000 m
1000 m
|
-
1213 m
-
1500 m
500 m
1400 m
|
Kependudukan
Secara
umum untuk bisa menggambarkan desa Pasongsongan dapat diklasifikasikan dalam 4
hal yaitu berdasarkan jenis kelamin, mata pencaharian, tingkat pendidikan dan
penganut agama. Untuk lebih mudah dalam memahami klasifikasi penduduk desa
pasongsongan kami akan menggambarkan dalam bentuk tabel di bawah ini:
•
Tabel
Kependudukan
|
No
|
Uraian
|
Jumlah
Berdasarkan
|
||||
|
Jenis
Kelamin
|
|
|
|
|||
|
L
|
P
|
Pekerjaan
|
Pendidikan
|
Agama
|
||
|
1
|
Jenis
kelamin
|
3822
|
3861
|
|
|
|
|
2
|
•
PNS
•
ABRI
•
Swasta/Pedagang
•
Petani
•
Pertukangan
•
Pensiunan
•
Nelayan
• Jasa
|
|
|
200
20
200
3359
19
45
1000
25
|
|
|
|
3
|
Pendidikan
•
SD/MI
•
SMP/MTs
•
SMA/MA
•
Tamat Akademi (D1-D3)
• S-1
|
|
|
|
2895
732
425
85
36
|
|
|
4
|
Agama
•
Islam
•
Kristen
•
Katolik
•
Hindu
• Budha
|
|
|
|
|
7638
|
Langganan:
Komentar (Atom)

































