Desa Pasongsongan

Kamis, 16 Februari 2017

Kuliah kepada Koperasi Wanita & Ibu - ibu PKK


Koperasi wanita didesa Pasongsongan digelar secara rutin setiap satu minggu sekali, acara ini dihadiri oleh seluruh anggota dari para pengurus koperasi, kegiatan ini dilakukan dirumah anggota secara bergilir, namun pada acara tersebut berbeda dari yang sebelumnya, karena pada hari itu selain dihadiri anggota koperasi wanita (Kopwan) juga diihadiri mahasiswa KKN Universitas Wiraraja Sumenep yang mana acara tersebut teman-teman KKN mengisi acara dengan kultum (kuliah tujuh menit.


Sebelum masuk acara kultum, acara koperdasi wanita dilakukan seperti biasa dengan mengaji / tadarusan.Selanjutnya masuk pada acara kuliah tujuh menit yang diisi oleh Syaifullah yang merupakan sala satu anggota KKN Universitas Wiraraja Sumenep.

Perbaikan Administrasi Desa

Pembenahan administrasi desa dilakukan oleh mahasiswa KKN Wiraraja Sumenep pada hari kedua di balai desa, kegiatan pada hari selasa memperbaiki data-data yang belum diperbaharui seperti perbaikan papan monografi desa, papan struktur desa, pembuatan nama-nama ruangan yang ada di balai, serta perbaikan lemari arsip desa untuk mempermudah pencarian data.
Pembenahan administrasi ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas administrasi menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Selain itu tujuan perbaikan administrasi untuk membantu staf administrasi dalam pengorganisasian data-data arsip penting.




Sosialisasi "STOP Pernikahan Usia Dini"

Mahasiswa KKN mengadakan sosialisasi bersam perangkat desa yang bertempat di dusun Morassen. sosilaisasi yang diadakan bersama perangkat desa juga dihadiri oleh DANRAMIL bapak Ahmad Riyanto. Bapak Kepala Desa Pasongsongan menyebutkan dalam sambutannya menegaskan dengan adanya sosialisasi ini dapat mengetuk tularkan melalui perangkatnya  kepada masyarakat desa Pasongsongan.
Pernikahan dini adalah sebuah pernikahan yang dilakukan oleh mereka yang berusia dibawah usia yang diperbolehkan untuk menikah yaitu dalam Undang-Undang perkawinan minimal 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk laki-laki. hal ini selasar dengan Undang-Undang NO 1 tahun 1974 tentang perkawinan pasal 7 ayat (1) dan pasal 6 ayat (2).




Penyuluhan Pemanfaatan & Pengolahan Daun Kelor

desa Tolabeng merupakan salah satu dusun di Desa Pasongsongan yang memiliki potensi alam yang salah satunya daun kelor. pada umumnya masyarakat dusun Tolabang mengenal daun kelor hanya sebagai kuah sayur. dan makan ternak sapi, namun mereka tidak mengetahui bahwa daun kelor bisa dijadikan olahan seperti keripik, kerupuk dan puding. adapun manfaat lainya daun kelor juga dapat bisa dimanfaatkan sebagai obat, seperti penyakit kuning, reumatik, rabun ayam, sakit mata, konstipasi, cacingan, dan luka yang bernanah. Adapun kandungan dari daun kelor setara dengan : 
4X vitamin A yang dikandung wortel
7X vitamin C yang terkandung pada jeruk
4X mineral kalsium pada susu
3X mineral potassium pada pisang
3/4X zat besi pada bayam, dan 
9X protein dari yogurt



Kegiatan Perilaku Hidup Bersih & Sehat


Kegiatan perilaku hidup bersih & sehat dilakukan oleh mahasiswa kuliah kerja nyata dari univ. Wiraraja Sumenep  bersama aparat desa.
Para anggota KKN beserta perangkat desa melaksanakan kerja bakti yang dilaksanakan setiap hari Jum'at sekitar pukul 06.30, hal ini bertujuan menjaga kebersihan dan  mempererat persaudaraan sekaligus menyadarkan masyarakat sekitar akan pentingnya kebersihan lingkungan. Kegiatan ini dilakukan di area balai desa dan sekitanya. meski lelah dan berkeringat semangat dan kekompakan teman-teman KKN tak pernah surut.





POTENSI DESA

POTENSI DESA PASONGSONGAN

            Desa Pasongsongan memiliki potensi alam yang sangat besar terutama dalam potensi laut atau perikanan dan juga potensi pertaniannya.Wisata alam desa pasongsongan ada Brouk di kampung Lebak Sari, Grujugan di Kampung Tebbena.  Selain itu desa pasongsongan juga memiliki wisata religi.
Gambar Perahu bersandar di Pelabuhan saat tidak beroperasi
Gambar Pintu gerbang brouk pasongsongan 

Gambar Mahasiswa KKN Berada di Grujugan Pasongsongan
Gambar Grujugan dilihat dari dataran tinggi 
Dalam wisata religi desa pasongsongan mempunyai pasarean Agung Ali Akbar Pakotan, Pasarean Agung Karim Pakotan, dan Bujuh Pakoh Lebak.



Gambar Halaman depan Asta syeikh Ali Akbar 

Gambar Asta Syeikh Ali Akbar






Rabu, 15 Februari 2017

Perkembangan Budaya Lokal

Perkembangan Budaya Lokal di Desa Pasongsongan

              Budaya Sumenep adalah budaya yang tumbuh dan hidup dalam masyarakat Sumenep. Budaya Sumenep dikenal dengan budaya yang sangat menjunjung tinggi sopan santun.Pada umumnya karakter masyarakat Sumenep adalah periang, ramah-tamah (andep ashor), murah senyum, lemah-lembut, dan sangat menghormati orang tua.Itulah cermin budaya masyarakat Sumenep. Jika diamati melalui tutur bahasanya, di Madura, maka semakin ke Barat akan semakin kasar. Mulai dari paling timur yaitu Sumenep, Pamekasan, Sampang dan Bangkalan.Tutur bahasa masyarakat Sumeneplah yang paling halus dan ini juga berlaku bagi watak masyarakatnya.
       Kebudayaan Sumenep memiliki ciri khas tertentu yang membedakannya dari kebudayaan–kebudayaan lain. Secara umum masyarakat Madura dikenal sebagai masyarakat yang Gigih dalam bekerja, watak kasar, religius, dan sangat spiritual. Selain itu Sumenep juga memiliki sejumlah nilai-nilai lain seperti kesopanan, rendah hati terhadap sesama, hormat kepada yang lebih tua, dan menyayangi kepada yang lebih kecil. Pada kebudayaan Sumenep keseimbangan magis di pertahankan dengan cara melakukan upacara-upacara adat sedangkan keseimbangan sosial masyarakat Sumenep melakukan gotong-royong untuk mempertahankannya.

            Budaya Sumenep memiliki banyak kesenian, diantaranya adalah kesenian tradisonal musik tong-tong, musik hadrah,dan mancak yang biasanya di mainkan pada saat ada pagelaran kesenian dan lomba-lomba di Kota Sumenep. Desa Pasongsongan juga kaya akan tradisi-tradisi keagamaan yang menjadi kegiatan rutinan warga, seperti jama’ah hotmil qur’an (hataman al-qur’an), jama’ah rukun kifayah, muslimatan ibu fatayat, jama’ah tarekat naqshabandiyah wa al-qadariyah. Sedangkan tradisi keagamaan tahunan adalah tradisi samman, Sageddog dan rokat tase’.Semua kebudayaan  ini, tetap dilestarikan dan sudah  melekat pada masyarakat Pasongsongan.
Gambar Group musik tong-tong Angin Ribut 
Gambar Personel  musik tong-tong Angin Ribut 
        Saat ini peradaban manusia telah maju. Hal tersebut telah terbukti dari budaya-budaya modern yang muncul dan mengisi dimensi-dimensi kehidupan manusia mulai dari kehidupan rumah tangga sampai kemajuan teknologi industri dan informasi. Hal-hal tersebut menandakan bahwa masyarakat telah menikmati hasil cipta rasa, dan karsa yang berupa hasil-hasil budaya yang tergolong modern. Berbagai perubahan yang terjadi tidak hanya menyangkut tatanan di dalam kehidupan sosial ekonomi, juga politik, kebahasaan dan kebudayaan.
       Di tengah kemajuan zaman seperti ini kita tentunya tidak boleh melupakan akar budaya yang telah ada karena budaya-budaya  itu mengandung nilai-nilai yang sangat luhur yang perlu tetap dilestarikan. Kebudayaan sapi sonok yang dimiliki kabupaten sumenep  juga terus dilestarikan didesa pasongsongan. Kebudayaan tersebut dijadikan sebagai  Ajang silaturrahmi bagi masyarakat desa pasongsongan khususnya para pemilik sapi sonok. selain itu kebudayaan sapi sonok juga menjadi hiburan bagi masyarakat sekitar.
Gambar Sapi sonok memasuki pintu gapura
Gambar Sinden Penghibur pemilik sapi saat meninggalkan pintu gapura
Gambar Mahasiswa KKN ikut serta dalam acara paguyuban 
Dalam hal ini kearifan lokal  perlu terus digali sambil tetap menikmati kebudayaan urban di tengah modernisasi saat ini. Melupakan kearifan lokal yang ada berarti mengingkari eksistensi warisan budaya nenek moyang yang sangat bernilai. Selain sapi sonok juga ada beberapa di antaranya adalah bahasa dan budaya daerah. Upaya yang dilakukan masyarakat Pasongsongan untuk melestarikan budaya lokal terlihat dari keantusiasan mereka dalam acara-acara festival kebudayaan dan acara-acara tradisi keagamaan setiap minggu maupun setiap tahun.


Kondisi Pendidikan Desa

Kondisi Pendidikan merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam kehidupan. Pendidikan juga menjadi penopang dalam meningkatkan sumber daya manusia untuk pembangunan bangsa dan menumbuhkan kesadaran akan bahaya keterbelakangan pendidikan. Karena tujuan dalam menempuh pendidikan adalah untuk memberikan suatu pengetahuan agar dapat mencerdaskan bangsa, sehingga anak-anak bangsa mempunyai keahlian dan keterampilan untuk memenuhi pembangunan bangsa di berbagai bidang di masa depan. Hal demikian juga sangat di sadari oleh seluruh elemen masyarakat Pasongongan. Mayoritas warga menyadari pentingnya pendidikan sehingga para orang tua banting tulang mencari uang diantaranya untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-ananknya mulai dari menyekolahkan di SD sampai ke jenjang perguruan tinggi.

            Pendidikan Desa Pasongsongan bisa dikatakan sangat maju, salah satunya bisa dilihat melalui sarana pendidikan formal maupun non formal. Di Desa Pasongsongan terdapat sarana pendidikan formal yang tidak kalah seperti halnya di perkotaan. Hal ini bisa dilihat dari gambar dibawah ini.
Gambar SDN Pasongsongan IV






Kondisi Fisik & Data Kependudukan

Kondisi Fisik Desa
      Kondisi wilayah desa Pasongsongan terdiri dari tanah bengkok seluas 17.868 Ha. Tanah Panaongan seluas 143.525, pekarangan seluas 145.5 Ha, perladangan seluas 22.41 Ha, tegalan seluas 345.6 Ha, dan tanah pekuburan seluas 5.7 Ha.

        Tabel Penggunaan Tanah (Ha)
No
Pemukiman
Sawah Irigasi Teknis
Sawah Non Teknis
pekuburan
Lain-lain

145.5 Ha
345.6 Ha
22.41 Ha
5.7 Ha
                    

        Tabel Infrastruktur Perhubungan (m)
No
Dusun
Jenis Jalan
Jalan tanah
Jalan aspal
Jalan makadam
1
2
3
4
5
6
Lebak
Morasen
Pakotan
Tolabang
Sempong Barat
Sempong Timur
3000 m
5500 m
1500 m
2000 m
3000 m
2500 m
1000 m
1888 m
1000 m
2000 m
2000 m
1000 m
-
1213 m
-
1500 m
500 m
1400 m

 Kependudukan
                  Secara umum untuk bisa menggambarkan desa Pasongsongan dapat diklasifikasikan dalam 4 hal yaitu berdasarkan jenis kelamin, mata pencaharian, tingkat pendidikan dan penganut agama. Untuk lebih mudah dalam memahami klasifikasi penduduk desa pasongsongan kami akan menggambarkan dalam bentuk tabel di bawah ini:
        Tabel Kependudukan

No
Uraian
Jumlah Berdasarkan
Jenis Kelamin



L
P
Pekerjaan
Pendidikan
Agama
1
Jenis kelamin
3822
3861



2
        PNS
        ABRI
        Swasta/Pedagang
        Petani
        Pertukangan
        Pensiunan
        Nelayan
       Jasa


200
20
200
3359
19
45
1000
25


3
Pendidikan
        SD/MI
        SMP/MTs
        SMA/MA
        Tamat Akademi (D1-D3)
       S-1




2895
732
425
85

36

4
Agama
        Islam
        Kristen
        Katolik
        Hindu
       Budha





7638